Sunday, 30 April 2017

Serba Serbi Self Editing bersama Noni Rosliyani

Sunday, 30 April 2017

"Sbr....sbr...sbr.... ku sgt sdh skli sm kdisi ini... rsny sdh brkali2 bgni"

Kening saya berkerut, mata saya menatap tajam layar HP yang sedang saya pegang. Iya, membaca sebuah status salah sstu friend list di sosial media (FB) bikin mata cenat-cenut. walau akhirnya bisa menangkap dan memahami statusnya, tetap saja gak enak dibaca. "Kok, ya gak diedit dulu? kenapa sih, kudu disingkat begitu?" pikir saya.

Hmm, ternyata fenomena seperti ini sering kita temukan. Di sosial media khususnya. Jadi ingat dulu zaman masih pakai hp jadul, sms nya disingkat karena terbatas banget, kan ya? nah, harusnya tuh generasi sekarang yang zamannya smart phone, nulis jangan disingkat dong! Kalau terpaksa menyingkat, Mbok yang wajar, dengan singkatan yang sudah lazim.

Atau sebelum share tulisan atau status, kita sebaiknya melakukan self editing. 'Wah yang benar aja, kita kan bukan editor? Ealah, memangnya edit mengedit tulisan, kerjaan dan wewenang editor aja? Hehe. Btw, bicara soal editor, saya punya teman seorang editor. Namanya Noni Rosliyani.



@nonirosliyani.com


Saya mengenal Noni Rosliyani (biasa dipanggil Mak Noni) di komuniats KEB, orangnya humble dan gesit gitu, rapi sejalan dengan profesinya. Jujur, saya kagum sama profesi dan kehalian yang satu ini. secara saya kadang malas banget nulis, boro-boro editing haha...

Salah satu Emak of the Mounth di komunitas KEB (Kumpulan Emak Blogger)  ini produktif banget, tengoklah dan jalan-jalan saja ke blognya http://nonirosliyani.com/ pasti betah, dan banyak sekali ilmu dan tip yang bisa kita ambil.




Nah, kembali pada tema yang ingin saya tulis ini tentang serba-serbi "Self Editing" bersama Mak Noni, simak di bawah ini, ya...


1. Menurut, Mak Noni, Apakah editing itu perlu untuk setiap tulisan. Misal cuma nulis status, dsb?

NR:  Perlu banget. Bahkan untuk nulis sependek apapun itu (status fb/twitter, caption ig) aku selalu baca ulang, edit. Enggak yang asal nulis langsung post. Aku bahkan udh dipost aja diedit lgi. Hahaha.. Karena aku gak pengin orang menangkap beda dari apa yang kutulis. 

"Editing bisa meminimalisir kesalahpahaman"

2. Sebenarnya apa sih makna self editing itu?

NR: Self editing itu tulisan yg ditulis sendiri, ya diedit sendiri. Bukan meminta bantuan orang lain untuk ngecek & ngeditin. Tapi second reader tulisan kita ini, ya kita sendiri.

3. Point penting apa saja yang harus dilakukan untuk melakukan self editing?

NR: Beri jeda antara waktu nulis dan self editing. Biar otaknya istirahat dulu, jadi emosi saat nulis enggak kecampur degan saat ngedit. Kalau untuk tulisan di blog, aku bisa sehari. Misal malam nulis, paginya aku baca lagi, edit lagi.
Dengan adanya jeda itu juga, mata kita bisa istirahat. Jadi bisa lebih jeli menangkap mana kata yang typo, mana kalimat yang gak pas, dan lain-lain.

4. Bagaimana kalau kita tidak melakukan self editing?

NR: Bisa jadi tulisannya banyak typonya, atau kita menulis dengan penuh emosi (nulis biar dapet soulnya perlu emosi juga kan ya.. hehe..) tapi ternyata dari tulisan itu siapa tahu menyakiti orang lain. Meski tanpa disengaja yaa. Tulisan juga bisa ditangkap beda maknanya sama pembaca. Misal karena kalimat kita yg kurang sesuai.

5. Bagi tips nya dong Mak, untuk self editing yang baik mudah dan cepat.

NR:  Sama seperti di point 3, beri waktu jeda antara nulis dan ngedit. Kita akan lebih mudah menilai apakah tulisan kita ini benar-benar layak dipost. Dan cepat bukan berarti kita kesusu saat self editing. Justru jangan melakukan editing saat lagi kesambi-sambi yang lain. Kalo editing dilakukan dengan fokus, mata dan hati enggak lagi capek, bakalan bisa lebih cepet selesainya.

Waah, ternyata untuk self editing perlu ada ilmunya. Gak sembarangan aja, ya. Catat baik-baik, deh. Senang banget dapat ilmu ini dari sang editor langsung. :-)

Oya, sebelumnya Mak Noni adalah editor di Galangpress sejak 2008 (Penerbit yg dulu nerbitin Gurita Cikeas ).
Kemudian tahun 2012 pindah ke Bentang Pustaka. Ternyata menjadi seorang editor juga ada suka dan dukanya, loh. Di bawah ini saya kutipkan langsung suka dukanya Mak Noni menjadi seorang editor. 

Sukanya, bisa berada dibalik layar para penulis2 terkenal. Sekalipun mereka enggak bakal kenal aku juga (yang dikenal pasti penulisnya lah ya.. hahaha) Tapi hepi aja, dilibatkan dalam proses brainstorming, dicurhatin sama penulis bahkan curhat yg confidential enggak boleh ketauan pembaca. Hahaha.. Trus setelah itu tahu bahwa buku yg idenya hasil godokan aku dan penulis, tnyt bestseller & bs menginspirasi oranglain. Rasanya hepi banget.
Kalo dukanya, saat dikejar-kejar deadline. Waktunya mepet, tapi harus terbit cepet, semua proses redaksional harus cepet. Bisa kebawa stres. Hahaha...

Hehe, sepertinya asik, ya menggeluti profesi seorang editor. Nah, sebelum menjadi editor beneran, baiknya kita belajar self editing dulu, ya. Jadi, jangan malas untuk self editing ketika nulis, apapun itu.

Terimakasih, mak Noni...:-) 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...