Mengapa Saya Memutuskan Melanjutkan Studi S3 (Meski Tanpa Beasiswa)
“Untuk apa sekolah tinggi-tinggi?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi sebagian orang, terutama perempuan, pertanyaan itu sering mengandung makna yang lebih dalam: seolah-olah ada batas tertentu yang seharusnya tidak perlu dilampaui.
Beberapa waktu terakhir saya cukup sering mendengar pertanyaan semacam itu ketika menyampaikan rencana untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral. Ada yang bertanya dengan rasa penasaran, ada pula yang menyampaikan dengan nada skeptis.
Sebagian bahkan menambahkan pertanyaan lain yang tidak kalah menarik: “Memangnya perempuan perlu sekolah sampai S3?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru membuat saya semakin merenungkan alasan mengapa saya memilih jalan ini.
Pendidikan Tinggi Bukan Sekadar Gelar
Bagi sebagian orang, pendidikan tinggi sering dipahami hanya sebagai sarana untuk memperoleh gelar. Semakin tinggi pendidikan, semakin panjang pula titel di belakang nama.
Namun bagi saya, pendidikan—terutama pada jenjang doktoral—bukan sekadar simbol akademik.
Jika pada jenjang sarjana dan magister kita lebih banyak mempelajari teori yang sudah ada, maka pada jenjang doktoral seseorang dituntut untuk melangkah lebih jauh:
mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Seorang mahasiswa doktoral diharapkan mampu menemukan pertanyaan baru, mengkritisi teori yang ada, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu.
Di titik inilah studi doktoral menjadi sebuah perjalanan intelektual yang serius.
Ia bukan hanya soal membaca buku yang lebih banyak, tetapi juga tentang belajar berpikir lebih dalam, lebih kritis, dan lebih bertanggung jawab terhadap gagasan yang kita hasilkan.
Islam dan Tradisi Mencari Ilmu
Dalam Islam, mencari ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Para ulama menjelaskan bahwa kewajiban ini tidak hanya berlaku bagi laki-laki, tetapi juga bagi perempuan.
Sejarah Islam juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam tradisi keilmuan. Aisyah r.a. dikenal sebagai salah satu ulama besar pada masa sahabat. Banyak sahabat bahkan belajar kepadanya untuk memahami berbagai persoalan agama.
Dalam sejarah yang lebih luas, banyak perempuan yang menjadi guru bagi para ulama besar. Hal ini menunjukkan bahwa dunia ilmu dalam Islam sejak awal tidak pernah secara prinsip membatasi perempuan.
Imam Syafi’i pernah mengatakan:
“Barang siapa menginginkan dunia, maka hendaklah ia berilmu. Barang siapa menginginkan akhirat, maka hendaklah ia berilmu.”
Ilmu, dengan demikian, adalah jalan kemuliaan—baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Mematahkan Anggapan tentang Perempuan dan Pendidikan
Meski demikian, dalam realitas sosial masih sering muncul pandangan bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan terlalu tinggi.
Alasannya bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa perempuan nantinya akan kembali ke ranah domestik. Ada pula yang menganggap pendidikan tinggi tidak terlalu relevan bagi perempuan.
Padahal jika kita melihat lebih jauh, perempuan yang berpendidikan justru memiliki peran yang sangat besar dalam masyarakat.
Seorang ibu sering disebut sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jika demikian, maka kualitas pendidikan seorang ibu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas generasi berikutnya.
Selain itu, dalam dunia modern, kontribusi perempuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan semakin luas. Banyak penelitian, kebijakan publik, serta inovasi sosial yang lahir dari pemikiran para akademisi perempuan.
Karena itu, membatasi perempuan dari pendidikan tinggi pada akhirnya berarti juga membatasi potensi kontribusi intelektual bagi masyarakat.
Tanggung Jawab Akademik
Selain alasan intelektual dan nilai keilmuan, keputusan saya melanjutkan studi S3 juga berkaitan dengan kondisi institusi tempat saya mengajar.
Kampus tempat saya mengabdi saat ini masih memiliki jumlah dosen dengan kualifikasi doktor yang belum banyak. Dalam konteks pengembangan institusi, keberadaan dosen dengan kualifikasi doktor menjadi sangat penting untuk memperkuat tradisi akademik, penelitian, serta kualitas pendidikan.
Karena itu, keputusan melanjutkan studi doktoral bagi saya juga merupakan bagian dari tanggung jawab akademik.
Di sisi lain, dunia pendidikan tinggi saat ini juga semakin menunjukkan bahwa kualifikasi doktor menjadi standar yang semakin penting bagi seorang dosen. Standar ini perlahan menjadi norma dalam banyak perguruan tinggi.
Dengan demikian, melanjutkan studi S3 bukan hanya pilihan pribadi, tetapi juga bagian dari kesiapan menghadapi perkembangan dunia akademik ke depan.
Melangkah Tanpa Beasiswa
Namun ada satu hal yang membuat keputusan ini tidak sepenuhnya mudah: soal pembiayaan.
Keputusan melanjutkan studi S3 ini saya ambil dengan kesadaran bahwa saya akan menempuhnya secara mandiri, tanpa dukungan beasiswa. Artinya, ada banyak hal yang belum sepenuhnya pasti ke depannya, terutama terkait dengan biaya.
Saya tidak tahu persis bagaimana perjalanan ini akan berlangsung.
Namun dalam hidup, kadang kita memang harus berani melangkah meskipun peta perjalanan belum sepenuhnya terlihat. Yang bisa dilakukan hanyalah memulai langkah dengan niat yang baik, usaha yang sungguh-sungguh, dan keyakinan bahwa jalan akan terbuka seiring perjalanan.
Sebuah Jalan Ilmu
Pada akhirnya, studi S3 bagi saya bukan sekadar tentang gelar doktor.
Ia adalah perjalanan ilmu.
Sebuah proses untuk memahami dunia dengan lebih dalam, sekaligus mencoba memberikan kontribusi—sekecil apa pun—bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Tidak semua orang harus memilih jalan ini. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing.
Namun satu hal yang saya yakini:
Ilmu tidak pernah mengenal batas usia, jabatan, ataupun jenis kelamin.
Selama seseorang masih memiliki keinginan untuk belajar dan memberikan manfaat bagi orang lain, maka jalan ilmu akan selalu terbuka.
Dan mungkin, di situlah makna paling dalam dari pendidikan:
bukan sekadar menjadi lebih tahu, tetapi menjadi lebih bermanfaat.
Sampai saya menulis ino, saya sedang menyelesaikan makalah komprehensif, semoga bisa ujian di semester ini. Pun ujian proposal. Bismillah. Doakan ya.

Posting Komentar untuk "Mengapa Saya Memutuskan Melanjutkan Studi S3 (Meski Tanpa Beasiswa)"
Posting Komentar
Terimakasih sudah membaca, Jika berkenan, Silakan beri komentar....:-)