Belajar Sabar dari Frozen Shoulder

 Ketika Tangan Tak Lagi Bebas Bergerak

Akhir tahun lalu menjadi salah satu fase yang cukup berat dalam hidup saya. Awalnya saya mengira hanya pegal biasa karena aktivitas yang padat. Namun lama-kelamaan, rasa sakit itu semakin aneh. Tangan kiri saya mulai sulit diangkat ke atas. Digunakan untuk meraih sesuatu terasa nyeri. Bahkan untuk menggerakkannya ke belakang saja sakitnya luar biasa. Malam hari sering terasa lebih menyiksa—nyeri, panas, kebas hingga menjalar sampai jari-jari.

Saya baru mengetahui bahwa kondisi itu disebut *frozen shoulder*. Sebuah kondisi yang membuat bahu terasa kaku dan nyeri hingga ruang geraknya sangat terbatas. Hal yang sebelumnya tampak sederhana—memakai baju, menyisir rambut, mengambil barang di rak, bahkan sekadar tidur nyaman—tiba-tiba menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Di awal-awal, saya benar-benar merasa terganggu. Rasa sakitnya bukan hanya fisik, tetapi juga memengaruhi emosi dan aktivitas sehari-hari.

Yang paling berat mungkin adalah ketika orang lain tidak benar-benar memahami rasa sakit itu. Iya, jadi saya sakit tapi seperti gak sakit, hehe. Dan enggan juga kalau cerita. Fase-fase awal yang cukup menguras emosi dan pikiran. 

Namun dari situ saya belajar banyak hal. Ternyata sehat itu benar-benar nikmat yang sering terlupakan. Kita baru sadar berharganya kemampuan bergerak ketika tubuh mulai “mogok bekerja”. Saya juga belajar untuk lebih mendengarkan tubuh sendiri. Selama ini mungkin terlalu memaksa diri untuk terus kuat, terus aktif, terus berjalan tanpa jeda. Padahal tubuh juga punya batas.

Perjalanan menghadapi *frozen shoulder* belum sepenuhnya selesai, tetapi saya mulai memahami bahwa proses sembuh bukan hanya soal fisik. Ada pelajaran tentang sabar, menerima keadaan, dan tetap bersyukur di tengah rasa sakit. Kadang Allah menghadirkan jeda melalui cara yang tidak kita duga, agar kita belajar memperhatikan diri sendiri dan menghargai nikmat sehat yang selama ini terasa biasa saja.

Untuk siapa pun yang sedang mengalami sakit serupa, saya ingin mengatakan: kamu tidak sendirian. Memang melelahkan, memang menyakitkan, tetapi insyaAllah ada fase pulih setelah semua proses ini. Pelan-pelan saja. Tubuh kita sedang berusaha sembuh.

Keluhan Awal

Keluhan pegal di tangan kiri sebenarnya sudah saya rasakan cukup lama, sejak akhir tahun 2024. Awalnya saya menganggap itu hanya kelelahan biasa. Mungkin karena aktivitas yang padat, terlalu lama bekerja, atau posisi tubuh yang kurang tepat. Saya masih bisa beraktivitas seperti biasa, meski sesekali rasa nyeri muncul dan mengganggu. Bisa jadi karena banyak pegang gadget ya. Atau bahkan dipijat karena menyangka itu pegal saja. Banyak kemungkinan. 

Namun semuanya mulai berubah setelah saya mengikuti ujian tulis AKBS yang di situ mengharuskan menulis banyak. Entah karena terlalu tegang, terlalu lama duduk, atau tubuh yang memang sudah “memberi sinyal” sejak lama, rasa sakit itu tiba-tiba meningkat drastis. Bahu dan lengan kiri terasa makin nyeri. Gerakannya mulai terbatas. Sampai akhirnya, menjelang akhir November, tangan kiri saya benar-benar tidak bisa diangkat ke atas.

Hal-hal sederhana mendadak menjadi perjuangan. Memakai baju saja susah. Memasang pakaian dalam bahkan hampir mustahil dilakukan sendiri dan harus dibantu. Tidur tidak nyaman, mencari posisi enak sangat sulit. Rasa nyeri menjalar, kadang seperti panas dan kebas sampai ke jari-jari. Obat pereda nyeri hampir menjadi konsumsi setiap hari agar saya tetap bisa menjalani aktivitas. Kompres air hangat pun menjadi kebiasaan sehari-hari. 

Akhirnya saya memutuskan pergi ke dokter. Awalnya saya mencoba memanfaatkan BPJS, jadi saya datang ke puskesmas sebagai faskes pertama. Setelah diperiksa, dokter menduga ada shoulder lesion dan saya dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan, yaitu Rumah Sakit Happy Land. Di sana saya bertemu dokter ortopedi. Bahu saya diperiksa, dicek gerakannya, lalu dilakukan rontgen untuk memastikan kondisinya.

Dan hasil rontgennya justru membuat saya sedikit bingung. Tidak ada kelainan tulang yang berarti. Struktur tulang tampak baik, tidak ada dislokasi, tidak ada penyempitan sendi, semuanya terlihat normal. Tetapi rasa sakit yang saya alami nyata. Sangat nyata. Tangan tetap sulit digerakkan dan nyerinya benar-benar membatasi aktivitas sehari-hari.

Dari situ saya mulai memahami bahwa tidak semua rasa sakit terlihat jelas lewat hasil pemeriksaan. Ada kondisi yang memang tidak tampak “rusak” dari luar, tetapi dampaknya sangat terasa bagi yang mengalaminya. Dokter kemudian menjelaskan bahwa kondisi saya mengarah pada frozen shoulder—bahu yang mengalami kekakuan dan peradangan sehingga gerakannya menjadi sangat terbatas.

Yang paling berat bukan hanya rasa sakitnya, tetapi proses menerima kenyataan bahwa tubuh ini sedang tidak baik-baik saja. Saya yang biasanya aktif, tiba-tiba harus meminta bantuan untuk hal-hal kecil. Ada rasa sedih, frustrasi, bahkan kadang merasa tidak berguna. Tetapi perlahan saya belajar, bahwa manusia memang punya batas. Dan mungkin, melalui sakit ini, Allah sedang mengajarkan saya untuk berhenti sejenak, beristirahat, dan lebih menyayangi diri sendiri.

Sekarang saya masih menjalani proses pemulihan. Masih ada nyeri di waktu tertentu, masih ada gerakan yang belum sepenuhnya bebas. Tetapi saya percaya, setiap proses sakit selalu membawa pelajaran. Tentang sabar, tentang bersyukur, dan tentang menyadari bahwa nikmat sehat itu ternyata luar biasa mahal.

Ketika Rasa Sakit Tak Kunjung Pergi

Setelah hasil rontgen keluar dan dinyatakan baik-baik saja, saya sempat merasa lega. Mungkin ini hanya sakit biasa yang nanti akan membaik dengan obat. Dokter memberikan berbagai macam obat pereda nyeri, tambahan kalsium, dan beberapa obat lain untuk membantu pemulihan. Saya pun rutin meminumnya sambil berharap kondisi segera membaik.

Namun ternyata, setelah obat habis, rasa nyerinya tetap ada. Tidak banyak perubahan. Tangan kiri masih sulit digerakkan, terutama untuk diangkat ke atas atau ke belakang. Aktivitas sehari-hari masih terasa berat. Saat kontrol kembali, dokter pun mulai bertanya-tanya. “Kalau nyerinya belum berkurang, berarti mungkin ada kemungkinan lain,” kira-kira begitu penjelasannya. Lalu dokter menawarkan dua pilihan: pemeriksaan lebih lanjut atau mencoba fisioterapi terlebih dahulu.

Karena saya termasuk orang yang ingin menjalani proses pelan-pelan, saya memilih fisioterapi dulu. Dalam pikiran saya waktu itu, mungkin memang tubuh butuh terapi dan waktu untuk pulih. Akhirnya saya menjalani fisioterapi selama satu bulan di rumah sakit tersebut.


Pengalamannya cukup panjang. Setiap sesi ada berbagai macam alat yang digunakan. Ada penyinaran hangat seperti sinar infra merah, ada alat yang bergetar di bagian tangan dan bahu, ada gel yang dioleskan, lalu terapi pijat atau massage untuk membantu melemaskan otot dan sendi yang kaku. Kurang lebih ada empat jenis tindakan setiap kali terapi. Awalnya saya berharap ada perubahan sedikit demi sedikit.

Tetapi setelah satu bulan selesai, hasilnya masih belum terasa signifikan. Nyeri tetap ada. Gerakan tangan juga belum kembali normal. Jujur, saat itu saya mulai lelah secara fisik maupun mental. Rasanya seperti sudah berusaha, tetapi belum menemukan titik terang.

Dokter kemudian menyarankan untuk melanjutkan fisioterapi tahap kedua. Namun saat itu saya merasa capek. Saya mulai berpikir, “Masa harus begini terus?” Akhirnya dokter ortopedi di Happy Land menawarkan opsi lain: dirujuk ke RSA UGM untuk diperiksa dokter saraf. Beliau menduga mungkin ada kemungkinan saraf kejepit atau gangguan lain yang tidak terlihat dari pemeriksaan sebelumnya.

Akhirnya saya mengikuti saran itu dan pergi ke RSA UGM. Di sana saya bertemu dokter saraf, dokter Adam. Setelah diperiksa, dokter menyarankan MRI untuk melihat kondisi lebih detail. Karena menggunakan BPJS, tentu ada proses antre yang cukup panjang. Jadwal MRI baru bisa dilakukan sekitar satu bulan kemudian.

Sebelum pulang, waktu itu saya juga mendapat suntikan—mungkin steroid atau obat antiinflamasi—di area yang sakit. Dan ternyata, setelah suntikan itu, kondisi saya mulai terasa lebih nyaman. Nyeri yang sebelumnya sangat mengganggu perlahan agak mereda. Tidak sembuh total, tetapi setidaknya saya bisa bernapas sedikit lega. Dokter Adam juga memberikan beberapa obat untuk membantu mengurangi keluhan selama menunggu MRI.

Di titik itu saya mulai sadar, perjalanan mencari kesembuhan ternyata benar-benar membutuhkan kesabaran. Tidak selalu langsung ketemu jawabannya. Kadang harus melewati beberapa pemeriksaan, beberapa terapi, sebelum akhirnya sedikit demi sedikit menemukan titik terang.

Pengalaman Pertama MRI: Antara Khawatir dan Pasrah

Tibalah waktu yang ditunggu itu: jadwal MRI. Kalau tidak salah sekitar satu atau dua minggu setelah Lebaran. Saya sendiri sebelumnya belum pernah menjalani MRI sama sekali. Yang saya tahu hanya dari cerita adik ipar saya, katanya alat MRI itu berisik dan bising sekali. Jadi sebelum masuk pun saya sudah membayangkan seperti apa rasanya.


Sebelum pemeriksaan dimulai, petugas memastikan tubuh benar-benar bebas dari logam. Resleting, kancing berbahan besi, jam tangan, perhiasan, semuanya harus dilepas. Bahkan pakaian dalam yang ada kawatnya pun tidak boleh dipakai. Orang yang pernah operasi dan memakai pen atau logam tertentu di tubuh juga harus memberi tahu petugas. Semua benar-benar diperiksa dengan teliti.

Setelah itu saya masuk ke ruang MRI. Dan ternyata benar… suaranya luar biasa bising. Subhanallah. Baru pertama kali saya mendengar suara mesin seperti itu. Bunyi dentuman, ketukan, dengungan—macam-macam sekali. Rasanya seperti ada belasan jenis suara yang bergantian muncul selama pemeriksaan. Alunan musik dari headset pun kalah. Waktu itu bagian yang diperiksa adalah sekitar leher dan tulang belakang. Saya harus berbaring diam tanpa boleh banyak bergerak selama kurang lebih tiga puluh menit.

Jujur, pengalaman itu cukup membuat saya takut. Ketika berada di dalam mesin MRI yang sempit dan tertutup, saya tiba-tiba teringat gambaran tentang kubur. Sunyi, sempit, sendirian, dan hanya bisa pasrah. Saat itu saya benar-benar banyak berdoa dalam hati. Rasanya saya jadi lebih sadar bahwa manusia memang sangat lemah. Kadang kita dipaksa berhenti oleh sakit agar kembali mengingat Allah dan menyadari bahwa sehat itu bukan sesuatu yang bisa kita anggap biasa.

Saya juga mulai mengerti kenapa banyak orang bilang MRI itu menegangkan atau menyeramkan. Suaranya keras, posisinya membuat kita tidak nyaman, dan kita harus diam cukup lama. Tetapi mau tidak mau, semua itu harus dijalani demi mengetahui penyebab sakit yang sebenarnya. Karena menurut dokter Adam, dari hasil MRI inilah nanti bisa dipastikan apakah saya mengalami saraf kejepit atau bukan.

Dan di titik itu, saya merasa perjalanan ini bukan hanya tentang mencari diagnosis penyakit. Tetapi juga tentang belajar sabar, belajar pasrah, dan belajar menerima bahwa kadang hidup membawa kita ke fase yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Ketika Diagnosis Itu Akhirnya Jelas

Tibalah waktunya kontrol hasil MRI ke dokter Adam. Jujur, saya menunggu hasil itu dengan campur aduk. Ada rasa takut kalau ternyata benar saraf kejepit berat, ada juga harapan semoga bukan sesuatu yang serius. Dan Alhamdulillah, hasilnya cukup melegakan. Ternyata saya tidak mengalami saraf kejepit berat. Kalau pun ada, hanya ringan sekali dan masih bisa diobati.

Tetapi dari situ akhirnya mulai jelas arah diagnosisnya: saya memang terkena frozen shoulder.

Dokter Adam kemudian merujuk saya lagi ke dokter spesialis bahu dan lengan, yaitu dokter Berta. Singkat cerita, saya datang untuk pemeriksaan lanjutan. Seperti biasa, dokter bertanya cukup detail tentang riwayat sakitnya, kapan mulai terasa, bagaimana nyerinya, gerakan apa saja yang terbatas, lalu dilakukan pemeriksaan gerak tangan dan bahu.

Dan hasil pemeriksaannya mengarah kuat ke frozen shoulder. Tetapi dokter mengatakan bahwa kondisi ini harus benar-benar dilihat secara detail supaya penanganannya tepat. Artinya, saya harus MRI lagi.

Jujur, waktu itu dalam hati saya sempat berpikir, “Aduh… kenapa tidak sekalian kemarin saja ya?” Tetapi ternyata memang berbeda. MRI sebelumnya fokus pada bagian leher, kepala, dan tulang belakang untuk memastikan ada atau tidaknya saraf kejepit. Sedangkan MRI kali ini khusus untuk area lengan dan bahu agar kondisi sendi, otot, dan jaringan di sekitar bahu bisa terlihat lebih jelas.

Akhirnya saya kembali menjalani proses menunggu jadwal MRI. Tetapi Alhamdulillah kali ini tidak selama sebelumnya. Hanya sekitar dua minggu sudah mendapat jadwal pemeriksaan.

Dan menariknya, untuk MRI kedua ini saya sudah tidak terlalu takut lagi. Mungkin karena sudah punya pengalaman sebelumnya. Saya sudah tahu suara mesinnya akan seperti apa, bagaimana rasanya masuk ke dalam alat itu, dan bagaimana harus diam selama pemeriksaan berlangsung. Jadi kali ini rasanya lebih tenang. Tidak setegang pertama kali.


Alhamdulillah prosesnya juga terasa lebih cepat. Mungkin karena saya sudah lebih siap secara mental. Dari situ saya belajar bahwa sesuatu yang awalnya sangat menakutkan, lama-lama bisa kita hadapi ketika sudah pernah melewatinya. Rasa takut ternyata sering kali muncul karena kita belum mengenalnya.

Dan perjalanan saya pun masih berlanjut. Sedikit demi sedikit, satu demi satu jawaban mulai ditemukan. Meski jalannya panjang dan melelahkan, setidaknya saya mulai tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saya.

Titik di Mana Saya Harus Memilih

Akhirnya MRI kedua selesai dijalani, dan Alhamdulillah semuanya lancar. Setelah itu saya kembali kontrol ke dokter Berta dengan harapan kali ini benar-benar mendapat jawaban yang jelas tentang apa yang terjadi pada bahu saya selama ini.

Dan ternyata… hasil MRI menunjukkan ada otot di bahu saya yang robek.

Jujur, mendengar kata “robek” saat itu rasanya campur aduk. Ada kaget, sedih, sekaligus lega karena akhirnya penyebab sakit yang selama ini saya rasakan benar-benar ditemukan. Ternyata selama ini bukan sekadar pegal biasa, bukan hanya salah posisi tidur atau kelelahan. Ada bagian di tubuh saya yang memang mengalami cedera.

Dokter Berta kemudian menjelaskan pilihan pengobatannya. Ada dua opsi: fisioterapi atau operasi.

Kalau memilih fisioterapi, kemungkinan sembuh totalnya cukup kecil dan prosesnya bisa sangat lama. Karena kondisi ototnya robek, pemulihannya memang tidak mudah. Sedangkan kalau operasi, tentu peluang perbaikannya lebih besar, meski hasilnya juga tidak bisa dijamin seratus persen. Dokter bilang hasil operasi pun tetap fifty-fifty. Tetapi setidaknya ada ikhtiar untuk memperbaiki bagian yang rusak tersebut.

Saya pun mulai berpikir panjang. Jujur, keputusan operasi bukan hal yang mudah. Ada rasa takut, cemas, membayangkan prosesnya, membayangkan pemulihannya nanti. Tetapi setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya saya memutuskan memilih operasi. Suami saya juga mendukung keputusan itu. Bismillah saja, pikir saya. Kadang dalam hidup memang ada fase ketika kita harus berani mengambil langkah demi ikhtiar untuk sembuh.

InsyaAllah operasi akan dilakukan tanggal 9 Juni nanti.

Dan yang sudah mulai terbayang di kepala saya sekarang justru masa setelah operasinya. Kata dokter, nanti tangan harus menggunakan penyangga seperti digendong selama sekitar empat sampai enam minggu. Waduh… saya sudah membayangkan bagaimana repotnya nanti. Aktivitas pasti jadi sangat terbatas. Hal-hal sederhana mungkin harus dibantu orang lain lagi. Tetapi tidak apa-apa. InsyaAllah semua dijalani demi proses sembuh yang lebih baik.

Dari perjalanan ini saya belajar bahwa sakit bukan hanya tentang rasa nyeri di tubuh. Tetapi juga tentang latihan sabar, latihan menerima keadaan, dan latihan untuk tetap kuat meski banyak kekhawatiran di kepala. Kadang Allah memang memberi ujian lewat tubuh kita sendiri, agar kita belajar bahwa manusia tidak pernah benar-benar kuat tanpa pertolongan-Nya.

Mohon doanya teman-teman, semoga operasi nanti berjalan lancar, dimudahkan semuanya, dan diberikan kesembuhan terbaik. InsyaAllah nanti saya akan lanjut berbagi cerita tentang pengalaman operasi dan masa pemulihan setelahnya. Semangat untuk semua yang juga sedang berjuang dengan sakitnya masing-masing. Kita sama-sama belajar kuat.

Apa Itu Frozen Shoulder?

Frozen shoulder atau dalam istilah medis disebut adhesive capsulitis adalah kondisi ketika sendi bahu mengalami peradangan dan kekakuan sehingga gerakan bahu menjadi sangat terbatas dan menimbulkan nyeri. Biasanya penderita akan merasa bahunya sulit digerakkan, terutama untuk mengangkat tangan ke atas, ke belakang, atau memutar lengan.

Kondisi ini sering berkembang secara perlahan. Awalnya hanya terasa pegal atau nyeri biasa, tetapi lama-kelamaan bahu menjadi semakin kaku hingga aktivitas sederhana seperti memakai baju, menyisir rambut, atau mengambil barang di tempat tinggi menjadi sulit dilakukan.

Secara umum, frozen shoulder memiliki tiga fase:

  1. Fase Nyeri (Freezing Phase)
    Bahu mulai terasa sakit dan nyeri semakin bertambah, terutama saat digerakkan atau malam hari.

  2. Fase Kaku (Frozen Phase)
    Nyeri mungkin sedikit berkurang, tetapi gerakan bahu menjadi sangat terbatas.

  3. Fase Pemulihan (Thawing Phase)
    Gerakan bahu perlahan mulai kembali membaik, meskipun prosesnya bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Penyebab Frozen Shoulder

Penyebab pasti frozen shoulder kadang tidak selalu diketahui. Namun ada beberapa faktor yang sering memicu kondisi ini, antara lain:

  • Cedera atau robekan otot bahu (rotator cuff tear)

  • Bahu yang lama tidak digerakkan, misalnya setelah cedera atau operasi

  • Aktivitas berat atau gerakan berulang pada bahu

  • Diabetes

  • Gangguan saraf atau tulang belakang leher

  • Usia di atas 40 tahun

  • Lebih sering terjadi pada wanita




Pada kasus saya sendiri, point 4 dan 5 itu tidak terjadi. Alhamdulillah gula darah normal. Dan tidak ada gangguan saraf atau tulang leher. setelah melalui berbagai pemeriksaan dan MRI, ternyata ditemukan adanya robekan otot di area bahu. Kemungkinan besar inilah yang menjadi penyebab utama munculnya frozen shoulder yang saya alami selama ini. Nah otot robeknya karena apa? Ini tidak bisa saya jawab, karena banyak kemungkinan. 

Yang membuat kondisi ini cukup berat adalah karena rasa sakitnya sering tidak terlihat dari luar. Bahkan hasil rontgen awal saya tampak normal. Tetapi nyeri dan keterbatasan geraknya benar-benar nyata dirasakan sehari-hari. Karena itu, kadang diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti MRI untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Demikian cerita saya, kapan-kapan saya update lagi ya. Terima Kasih sudah membaca. 



nunung nurlaela
nunung nurlaela Momblogger of 5. lecturer, writer

Posting Komentar untuk "Belajar Sabar dari Frozen Shoulder"