Cara Membentuk Aqidah Pada Anak



Assalamualaikum. Halo sahabat bloger semuanya. Semoga dalam kondisi sehat dan semangat selalu. Postingan kali ini saya ingin menuliskan seputar parenting. Dan Insya Allah akan menjadi postingan rutin. Doakan, ya sahabat bloger semuanya. Nah, untuk pertama kali saya akan membahas tentang parenting anak Islami yang bersumber dari berbagai referensi yang saya baca. Tema pertama sengaja saya pilih adalah bagaimana menanamkan aqidah kepada anak. Silakan dibaca dan disimak ya. Jangan lupa tinggalkan komentar jika ingin bertanya atau menambahkan. Terimakasih.

Oya, Ini saya tulis juga untuk menjawab pertanyaan di kelas online yang saya isi. Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh ibu-ibu adalah bagaimana caranya membentuk dan menanamkan aqidah pada anak. Memupuknya agar semakin kokoh. Terutama di era sekuler yang banyak godaan ini? 

Anak adalah titipan berharga dari Allah SWT yang mudah pecah. Mari jaga titipan itu dengan sebaik-baiknya (Jamil Azzaini)

Membaca quote dari salah satu motivator handal dan terkenal di atas, rasanya makjleb dan pastinya menjadi pengingat diri. Iya, sebagai orang tua saya merasa masih jauh dari sempurna. Meskipun manusia memang tak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Tapi, tetap ada upaya dan juga keinginan kuat dari saya agar bisa mendidik dan memberi yang terbaik untuk anak. Apalagi perkara aqidah yang merupakan pokok dan sebagai modal bagi kehidupan ini.

Salah satu PR besar bagi para orang tua adalah mendidik anak. Apalagi di era sekuler ini. Butuh perjuangan dan energi yang tak sedikit. Pun kesabaran, ketelatenan, dan pastinya adalah ilmu sebagai bekal untuk mendidiknya. Ya, ibaratnya tanpa ilmu ya tentu saja tanpa arah, bukan?

Saya pun membaca, dan mengkaji berbagai refrensi tentang mendidik anak dalam Islam. Mulai dari guru ngaji, kitab, buku, jurnal, dan juga internet dan sumber yang lain. Banyak sekali cara dan metode mendidik anak. Satu hal yang belum banyak dipikiran adalah bagaimana menanamkan aqidah pada anak terlebih anak usia dini. Karena memang bahasan parenting kebanyakan ha-hal seputar adab dan juga hal prakstis lainnya. Saya menemukan referensi buku tentang Parenting Rasulullah. Ada panduan lengkap mendidik anak termasuk membentuk dan menanamkan aqidah. Bagaimana caranya?


membacakan cerita atau sirah nabi dan sahabat pada anak, menstimulus pembentukan aqidah pada anak

Caranya bisa dimulai dengan memahamkan kepada mereka tujuan hidup di dunia. Dan tahapannya juga sesuai usia mereka. Namun tetap di sounding terus sejak mereka lahir ke dunia. Keteladanan dari orang tua, keluarga dan lingkungan sekitar juga turut berkontribusi besar. 
Secara singkatnya berikut bagaimana praktisnya membentuk Aqidah Anak;

1. Mentalqin anak untuk mengucapkan kalimat tauhid

Mentalqin bahasa sederhanya adalah mengajarkan. Gimana caranya mentalqin? Sederhana saja, mulai dari kandungan bayi sudah kita sounding dengan kalimat tauhid. Disamping membaca dan memperdengarkan alquran, mengulang dan menyebut kalimat tauhid juga sangat dianjurkan. Pun setelah bayi dalam kandungan lahir ke dunia. Orang tua, terutama si ibu hendaknya mengulang-ulangnya sehingga akan menyerap ke otak anak. Kalau sudah besar dan bisa bicara ya mudah saja, ajarkan seperti mengajarkan hafalan doa dan surat-surat pendek. Meskipun anak masih  belum lancar bicara tetap diajarkan agar terlatih dan terbiasa dan melatih bicara juga, kan?

2. Mengajarkan cinta kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh Allah

Nah, ini yang paling mudah namun tak sedikit kita melupakannya. Terkadang melupakan Allah pada saat-saat tertentu. Misalkan berbohong, anak berpikir kebohongannya tak ada yang tahu. Kemudian menyontek ketika ujian. Kita ingatkan mereka dengan analogi dan bahasa yang mudah dipahami oleh mereka. Bahwa apa yang kita lakukan bisa dilihat dan diketahui sama Allah. Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berbohong dan berbuat curang.

3. Mengajarkan cinta kepada Rasulullah SAW, keluarga dan sahabat beliau

Mengajarkan cinta kepada Rasulullah banyak sekali caranya. Mulai dengan kita rutin membacakan sirah nabi dan juga para sahabatya. Sirah perjalanan kehidupan rasulullah dan juga tak kalah penting adalah mengajarakan dan juga menceritakan tentang perjalanan dakwah Rasul dalam mengemban dakwah Islam ke seluruh  penjuru negeri.

Menceritakan bagaimana para sahabat Rasul yang begitu gigih membela Islam. Tak gentar dan tak tergoda dengan kenikmatan duniawi. Bahkan nyawa terancam dan juga dizalimi, namun mereka tetap gigih memegang aqidah Islam. Pengorbanan dari para sahabat untuk perjuangan dakwah Islam.

Anak-anak akan tergambar bagaimana agar tak mudah goyah dan berjuang demi Isam. Contoh kecil saja, merea berat untuk sholat, kita beri gambaran tentang susahnya sholat di negeri-negeri muslim yang terkena konflik. Seperti Palestina, Syiria, Rohingya, dan masih banyak lagi. Bersyukur

4. Mengajarkan Alquran kepada anak

Mengajarkan anak Alquran secara langsung adalah kemuliaan bagi orang tua dan dianjurkan untuk mengajarkan alquran secara langsung. Namun jika dirasa belum bisa atau karena kendala, boleh mewakilkan pada orang lain atau guru yang mampu. Namun akan lebih mudah dan efektif adalah teladan dari orang tua dan lingkungan sekitarnya. Jadi, perlu diluangkan waktu yang secara rutin untuk mengajarkan al quran ini. Membaca atau tilawah bersama, murojaah, dan menghafal al quran. Insya Allah kalau ini diagendakan secara ketat dan disiplin, dampaknya akan berbekas. Minimal anak menjadi terbiasa dengan belajar al quran.

5. Mendidik anak agar teguh dan berkorban demi Aqidah

Zaman makin maju. Tantangan ke depan makin sulit. Gempuran opini yang berkembang di tengah masyarakat makin beragam. Jika tidak kita bekali anak kita dengan pondasi aqidah yang kokoh, kemungkinan menjadi rapuh akan terjadi. Bahkan tak sedikit kasus menggadaikan aqidah demi urusan duniawi. Kita bekali dan tanamkan tentang ujian bagi orang yang beriman. Akan ada banyak ujian yang dihadapi, baik masalah individu maupun lingkungan. Perkuat dengan cara, selalu mengingatkan dengan konsekuensi keimanan, tujuan hidup dan juga tentang pahala dan siksa. Secara praktis, anak diajari akan pembelaan terhadap agama, infak untuk aktivitas di jalan Allah. Mengkaji ilmu tak kenal lelah, dan sebagainya.

6. Turut dalam kegiatan dakwah, dan bergabung dalam jama'ah dakwah
Hal ini akan membiasakan anak yang sudah baligh untuk selalu ingat aka kewajiban dakwah. Yaitu aktivitas yang paling disukai oleh Allah. Menyeru kepada yang haq dan menjauhi kemungkaran, aktivitas kemaksiatan dan hal yang dibenci oleh Allah.
 
Banyak wasilah juga untuk membentuk aqidah anak tersebut, misal dengan buku-buku cerita, siroh nabi, siroh sahabat dan juga bantuan alat teknologi. Tak ada yang instan, semua itu butuh proses dan utamanya adalah SABAR dan ISTIQOMAH. Karena masing-masing kondisi anak juga berbeda. Jangan lupa, para ibunya juga kudu terus apgred dan apdet ilmu, terutama ilmu agama. Semangat untuk para ibu semua mari belajar bareng. Sibukkan dalam aktivitas ibadah yang disukai oleh. Hasan Al Bashri berkata, diantara Allah berpaling dari seorang hamba, Allah menjadikan sibuk dalam hal yang sia-sia  sebagai tanda Allah menelantarkannya. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Allahumma Aamiin. Semangat untuk para ibu pembelajar!





No comments

Terimakasih sudah membaca, Jika berkenan, Silakan beri komentar....:-)