Saturday, 31 December 2016

Pelajaran yang Bisa Diambil Dari Mana Saja

Saturday, 31 December 2016


Pernahkah kau merasakan cinta pertama? Mungkin lebih tepatnya cinta monyet?

Itulah yang aku rasakan, dan cinta itu mengubahku. Di usiaku yang masih tergolong belia, aku sudah merasakan jatuh cinta. Yang kata orang-orang berjuta rasa dan indahnya. Ahai, ya memang beneran indah.

Aku adalah seorang anak mantan kepala desa dan sekaligus guru ngaji di kampungku. Musola kecil yang terletak tepat di belakang rumahku itu, adalah salah satu saksi bermulanya bunga-bunga indah dalam hidupku.

Aku mengenalnya, karena adik sepupunya adalah teman sebangkuku. SD yang juga tak jauh dari rumahku. Hampir tiap ahri aku bermain ke rumahnya. Diam-diam dia memperhatikanku. Tepatnya usil padaku. Yah, mungkin caper begitu. Awalnya aku begitu sebal bahkan sering menyumpahinya. Ya, sumpah. Dia menyebalkan! Bahkan aku tak mau peduli ketika temanku itu pernah menyampaikan salam darinya, untukku. Ih, paan, sih?

Sok alim. Begitu pikirku. Ya, dia rajin banget ke musola. Teman yang lain ke musola jelang maghrib, dia habis asar sudah nongkrong aja di situ. Kadang aku keki karena dilihatin saat aku masih bermain bulutangkis sore itu.

Ya ampun, aku belum mandi. Pun belum sholat ashar. Dia udah klimis aja dan langsung bersih-bersih musola.

Hey, aku terkena omonganku sendiri rupanya. Iya, benar ternyata. Jangan berlebihan ketika membenci seseorang karena bisa jadi nanti kita menjadi suka atau cinta pada orang tersebut. Sebaliknya, jangan terlalu suka sama orang, karena bisa jadi suatu saat orang yang kita cinta itu akan kita benci.

Akhirnya aku merasakan itu. Benih-benih suka itu mulai muncul.

Dia sempurna dimataku. Sudahlah ganteng rajin ke musola pulak!

Aku tak bosannya mencuri pandang padanya. Aku paling suka dengan gaya kalemnya

Jumat siang adalah jadwal rutinku untuk nongkrong di ruang depan rumahku. Aku menunggu dia lewat jalan kaki menuju masjid. Aku hanya bisa melihatnya dibalik tirai kaca rumahku.

Dia membuatku malu, ya malu. Dia sangat rajin membantu orang tuanya. Tak segan dia membantu ayahnya melayani pembeli di tokonya. Mengangkat beban berat terkadang.

Sedangkan aku?

Anak manja dan hobinya nonton tipi.

Meskipun tak terucap, matanya menjawab semuanya. Dia suka aku? Ah,geer amat.

Dan, entah darimana bermula. Jodoh-jodohan itu terjadi. Ya, aku diolok-olok dan dijodohkan sama dia. Aku pura-pura kesal dengan ulah teman-temanku. Padahal dalam hatiku aku menari. Ah, aku bahagia. Degup jantung ini mungkin berdegup kencang saking senangnya.

Begitulah, masa beliaku penuh dengan rupa warna. Kata dia sih, nano-nano gitu. Sampai aku masuk smp dan mondok. Sosoknya kadang masih bisa aku lihat saat aku pulang. Dia pun mondok ketika lanjut sma. Di daerah yang sama dengan smp ku. Namun hampir tak pernah kami jumpa. Sosoknya seakan ditelan bumi. Hingga aku sma dan lanjut kuliah. Cerita di musola itu tinggal kenangan saja.

Kabar itu

Dia meninggal dalam kecelakaan. Sebuah bus besar menabraknya di Jakarta.

Aku lemas. Hampir saja gagang telpon di kostku jatuh. Aku pura-pura tegar saat ibu masih bercerita. Ya Allah, dadaku sesak. Air mata ini sudah tak bisa kutahan. Aku buru-buru masuk ke kamar. Namun teman kostku sudah elbih dulu mendapati air mataku.

“Hey, kenapa?”

Aku menangis sejadinya sambil bercerita. Dia, cowok soleh itu. Cowok ganteng sedunia itu. Cowok rajin dan tak malu membantu orang tuanya itu. Telah berpulang pada-Nya.

Ya Allah…luka kehilangan orang yang dicintai menganga kembali.

Aku masih menyimpan harapan dan sangat ingin bisa jumpa lagi dengannya

Namun, kabar dari ibuku itu sungguh di luar dugaanku.

Ya Allah, mengapa secepat itu Engkau panggil dia?

Meskipun tak ada ikatan apa pun dengannya, aku begitu rapuh untuk bisa melupakannya.

Semangatku sempat surut. Hariku sempat menjadi suram.

Aku ingin sekali bisa ke makamnya. Namun sepertinya tidak mungkin. Makamnya bukan di Cirebon, tapi kota Ciamis. Tapi aku masih berharap bisa kesana.

Aku juga tak mengerti rasa ini. Rasa yang tak bisa kulukiskan secara detail.

Aku kembali mengalami malam-malam sesak yang tak ku mengerti. Rasa nyeri di hati ini. Nyeri karena kehilangan. Kehilangan orang yang pernah membuat aku tertawa dan membuatku berbuat bodoh.

Mataku kerap basah dan nafsu makanku berkurang. Aku hanya bisa cerita pada Sang Pemilik Kehidupan. Bahwa aku sedih

Dia, cinta pertamaku, yang katanya cinta monyet itu. Tenyata menjadi pembelajar bagi hidupku.

Kegigihan dan tak merasa malu, membuatku iri.

Kebaikannya. Sangat diingat baik oleh teman-temanku. Sampai kutuliskan kisah ini. Aku masih ingat betul apa yang ia teladankan untukku.

Baginya, berbakti pada orang tua dan menjadi teladan bagi adiknya adalah suatu yang utama. Berbeda denganku. Mungkin karena aku anak bungsu dan dia anak sulung.

Teriring doa untuknya. Semoga Allah menempatkannya di surga terbaik-Nya. Aamiin.




6 comments:

  1. Wah sedih banget ceritanya :(

    ReplyDelete
  2. ohh...mengharukan #kisah nyatamu ya mbak?

    ReplyDelete
  3. Aku beberapa kali merasakan cinta yang terpendam, jadi tau lah gimana rasanya.
    Dan kehilangan orang yang spesial di hati tersebut scr tak disangka, pasti rasanya campur aduk ya Mbak, sedih tak terkira, tapi mau cerita ke orang lain malu..
    Semoga dia sudah damai beristirahat di pangkuan-Nya ya, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Begitulah, Mbak. Klo ingat itu rasanya bikin sesak dada ini.

      Aamiin...makasih, ya. Setidaknya dengan nulis ini, aku lebih plong. Hikmah yg aku ambil banyak sekali, darinya.

      Delete

Terimakasih sudah membaca, Jika berkenan, Silakan beri komentar....:-)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...