Saturday, 27 September 2014

Salah Pijat (Gado-Gado Femina edisi 36 11 September 2014)

Saturday, 27 September 2014
Alhamdulilah...senangnya luar biasa mendapat konfirmasi bahwa naskah gado-gado Femina yang kukirim akan dimuat. Gak percaya awalnya. Karena baru pertama kirim dan ada sedikit typo penulisan. Tapi ah, sekali lagi saya bersyukur. Ya, karena tidak mudah untuk tembus majalah yang satu ini. Tidak percuma saya dulu ngepoin blognya Mbak Haya Aliya Zaki. Dan saya sangat berterimakasih dengan support, informasi dan juga penjelasan yang detail dari Mbak Rebellina Passy, yang sebelumnya dah sering tembus gado-gado Femina. Oya, karena banyak yang ingin membaca naskah gado-gado saya, maka saya posting di blog saja deh. Tapi ini versi asli yang belum diedit oleh Redaksi Femina. Ini adalah pengalaman nyata saya ketika saya SMP...


ini penampakan di majalahnya...




Salah Pijat

Kebiasaan ibu saya, ketika anak-anaknya sakit ringan adalah memijatnya. Ketika saya sakit, atau kakak-kakak saya dan tak terkecuali bapak pasti dipijat sama ibu. Efek pijatan ibu sangat terasa. Apalagi jika kami masuk angin atau badan capek dan pegal. Setelah dipijat, badan jadi terasa enteng dan segar. Ditambah lagi dengan baluran minyak kayu putih, atau balsam serta minya gosok, masuk angin atau badan pegal kami langsung berkurang dan berangsur hilang.
Pijatan ibu ini terasa beda. Lebih halus usapannya dan tidak merasa sakit. Berbeda dengan pijatan Ibu tukang pijat di desa kami. Mungkin karena ada ikatan ibu dan anak hingga pijatan ibu lebih terasa mantap dan berarti bagi saya dan saudara-saudara saya.
 Tak heran jika semua anggota keluarga suka dengan pijatan ibu. Kecuali kakak perempuan saya yang nomor dua. Dia tidak suka dipijat lantaran dia kalau dipijat, pasti kegelian dan cenderung menolak. Alasan lainnya, kalau habis dipijat, pasti badannya sakit semua. Padahal, ibu sudah berusaha untuk tidak keras menekannya, berusaha selembut mungkin, kadang hanya mengusapnya saja. Namun ia tetap kegelian. Terkadang ia menjerit-jerit dan tertawa cekikikan saking gelinya. Dan akhirnya tak pernah mau dipijat.
Saya adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Empat saudara perempuan dan satu saudara laki-laki. Tentang dipijat ibu ini, saya jarang merasakannya. Karena saya jarang sakit, dan jika ibu menawarkan untuk dipijat saya tak selalu mau.
Suatu hari, kakak perempuan saya yang nomor empat sakit flu dan juga meriang. Kakak Ida, saya memanggilnya. Dia relatif paling manja dan paling dekat dengan ibu. Kalau sakit, terutama ketika flu dan masuk angin, pasti selalu ingin ditemani ibu dan tak ketinggalan minta dipijat dan dibaluri minyak kayu putih seluruh badannya.
“Bu, ibu…tolong saya dipijat, saya pusing sekali. Badan meriang.” Teriak kak Ida dari dalam kamar. Ibu tak mendengar rintihan kak Ida, lantaran sedang melayani pembeli di warung kecil kami. Saya pun bergegas menghampiri ibu yang masih memberi kembalian pada pembeli. Bu, kak Ida dari tadi  manggil, pingin dipijat. Ya, bentar kata ibu sembari merapikan beberapa lembar uang dalam laci meja.
Setelah selesai, dan mencuci tangannya, ibu bergegas menuju ke kamar kak Ida. Saya pun segera mengambil minyak kayu putih di kotak obat sesuai permintaan ibu.
“Apanya yang dipijat? Kalau pusing, kepalanya dulu ya ibu gosok-gosok sedikit keningmu.” Tanpa menunggu jawaban kak Ida, ibu pun langsung memijat dan meraih minyak yang kuberikan. Ibu pun terus memijat dan menasehati kak Ida.
“Makanya, jangan suka tidur larut, kamu itu kurang istirahat.” Setelah selesai, kemudian ibu pun keluar kamar. Saya yang sedari tadi mendengarkan omelan ibu, hanya tersenyum dan membenarkan kata-katanya. Semoga kak Ida tidak suka begadang lagi, doa saya penuh harap.
“Bu, dek Ida tu nangis pingin dipijat. Ibu lama sekali.” Kata kakak perempuanku yang nomor tiga yang sedari tadi berada di depan rumah.
Loh ibu sudah pijat kok itu dikamarnya, dia sudah tidur.” Jawab ibu dengan yakin.
“Masak sih bu, lah Ida ada di sofa depan kok bu…lihat saja.” Kata kak Ila. Ibu pun bergegas ke depan . Aku dan kak Ila mengekor dibelakang ibu. Benar saja, kak Ida berbaring di sofa sembari merintih dan  memijit-mijit keningnya. “Lah terus yang dikamar siapa?” tanya ibu penuh heran. Ibu pun masuk kembali menuju kamar, kami pun mengikuti dari belakang. Ibu membuka kelambu yang memang sengaja menutup seluruh tempat tidur untuk menghindari nyamuk. Terlihat sesosok tubuh yang sedang tidur tengkurap.
“Oalah nduk, jadi kamu toh yang tadi ibu pijit?“ ibu berkata sambil menggelengkan kepalanya. Saya pun ikut terbengong dan dalam hati saya berkata, kok tadi saya tidak lihat kalau ternyata yang dipijat ibu bukan kak Ida.
Mendengar ribut-ribut, sosok yang terbaring tersebut menggeliat. “Ah, ternyata enak juga ya pijatan ibu.” Gumamnya sambil beranjak duduk.  Maaf tadi saya sebenarnya gak ngerti, saya lagi tiduran disini trus tiba-tiba ibu datang dan memijat kening saya. Karena rasanya enak saya pun diam saja. Kapan-kapan saya dipijat lagi ya, Bu” mengakhiri penjelasannya sambil tersenyum malu.
 Sontak semua tertawa. “Tuh kan, ternyata enak kan dipijat?” kataku menggoda. Sosok itu, yang tak lain adalah kakak saya yang nomor dua. Hanya mengangguk sambil tertawa kecil.
Sejak itu, kak Maryam, saya memanggilnya. Akhirnya mengakui dan tidak menolak lagi jika dipijat ibu.



Nah, begitu naskah aslinya. Ada beberapa editing dari Redaksi Femina. dan ternyata editannya malah ada yang salah. hehe...gak papa deh...

33 comments:

  1. Oh, gitu ya ceritanya.. ringan dan lucu.. baru baca sekarang :)
    btw, kok malah salah ya editannya? hihihi..
    sukses selalu ya, Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya mbak...tapi gak papalah...:D

      Btw, Aamiin...sukses untukmu juga ya mbak...:-)

      Delete
  2. Selamat mba, turut senang. Lucu kisahnya

    ReplyDelete
  3. Cerita ringan dengan sedikit bumbu lucu. Selamat ya mak Nunung

    ReplyDelete
  4. selamat ya mak. mudah2an kedepannya semakin sering dimuat dan dimuat terus :)

    ReplyDelete
  5. heheheh akhirnya mau juga pijat emang enak ya hehe

    selamat yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak...gak ada duanya pijatan ibu :-)

      Delete
  6. Selamat mbak. Lama juga ya 7 bulan. Apakah kemudian ada pemberitahuan dari femina?

    ReplyDelete
    Replies
    1. standarnya memang rata2 segitu mbak...gak kerasa juga nunggunya hehe. iya, ada pemberitahuan dari Femina..

      Delete
  7. ikut belajar bikin gado-gadonya ya Mbak. Eh, selamat sdh bisa nembus femina

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayuk mak...belajar bareng...btw, makasih ya mak dah mampir...:-)

      Delete
  8. Wah kejadian sehari-hari malah enak nyritainnya ya mak, malah dimuat. Selamat ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak...cerita2 sederhana tapi bikin senyum...btw, makasih ya mak dah mampir...:-)

      Delete
  9. Replies
    1. hehe...makasih dah mampir ya mbak...:-)

      Delete
  10. Replies
    1. hehe...iya mbak...kenangan almarhumah ibu juga...*jadi terharu...

      Delete
  11. Replies
    1. Aamiin...sukses untukmu juga mak...btw, lagi bikin buku solo lagi ya? wah moga lancar ya mak...:-)

      Delete

Terimakasih sudah membaca, Jika berkenan, Silakan beri komentar....:-)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...