Berjuta Syukur di kereta Ekonomi


Bagi sebagian orang, menggunakan jasa kereta ekonomi adalah sebuah hal yang sangat dihindari karena gengsi atau karena memang kualitasnya tidak layak. Tetapi tidak bagi sebagian yang lain, mereka justru senang dan hobby naik kereta ekonomi lantaran tiket yang murah meriah. Seperti aku, sebagai seorang mahasiswa yang merantau di kota orang, kereta ekonomi adalah sebuah satu-satunya pilihan bagiku. Pertama karena alasan menghemat biaya dan aku tidak bisa naik bus karena mabuk perjalanan. Dengan tiket yang seharga Rp 12.000,- pada waktu itu, sekitar tahun 1998, aku sudah bisa pulang pergi antar Cirebon dan Yogyakarta.

Walau kereta ekonomi dengan segala kekurangannya, tetap saja kereta ini banyak digemari, khususnya bagi orang-orang yang tidak mampu. Selain murah, kereta ekonomi bagiku mengajariku banyak hal, dan membukakan mataku dengan kenyataan hidup. Setiap ku naik kereta ekonomi ini, selalu ada sosok atau kejadian yang membuat aku selalu bersyukur. Bersyukur akan segala nikmat yang Allah berikan padaku. Kereta ekonomi banyak mewakili akan kondisi masyarakat yang kurang beruntung di negeri ini. Kereta ekonomi juga cerminan dari berbagai elemen masyarakat yang ada di negeri ini. Entah bayangan gambar itu indah atau malah buruk, semua ada dalam cermin ini.
Aku terhenyak ketika melihat seorang bocah laki-laki kurus kering, kulitanya hitam legam dengan kaos oblongnya yang mulai robek, dia menggemgam batang sapu ijuk. Dia mulai menyapu sampah yang berserakan dari satu gerbong ke gerbong yang lain. Setiap sampah yang ada di depannya, di antara kursi-kursi penumpang dia sapu terus dan terus sampai dia menemukan pintu dari gerbong kereta. setelah menyapu bersih kursi dimana aku duduk, dia mengulurkan bungkus plastik yang sedari tadi dibawanya. “Kebersihan pak, bu, mas, mba, seikhlasnya.” Suara bocah itu penuh santun. Berbeda dengan tukang sapu yang pernah kutemui di perjalanan sebelumnya, yang begitu kasar dan memaksa jika ada penumpang yang tidak memberi.” Astaghfirullah…”

Pemandangan lain, seorang bapak tua tuna netra, dia berjalan sendiri dengan tongkatnya, tiap melewati kursi-kursi penumpang, dia menengadahkan telapak tangan kanannya. Sambil berkata, Assalamualaikum mas, semoga Allah member rizki yang melimpah dan diberi keselamatan pada mas sekeluraga ( dalam bahasa jawa). Sosok bapak ini sudah tidak asing lagi, karena hampir disetiap perjalananku, bapak itu ada. Lagi, seorang bapak yang cacat kakinya tertekuk, tidak bisa berjalan tetapi ngesot terus sepanjang gerbong, dari kursi yang satu ke kursi yang lain, dengan mengharap belas kasihan sekeping rupiah dari para penumpang. Trenyuh aku melihatnya.
Sepanjang perjalanan kurang lebih 7 sampai 8 jam ini, aku mengamati dan menemukan banyak hal. Warna-warni kehidupan manusia dengan segala peran dan nasibnya. Semua terlihat disini. Beragam kepala lalu lalang di sepanjang gerbong kereta ini. Tentu dengan tujuan yang sama, untuk mendapatkan uang, walau berbeda caranya. Dan kebanyakan ha-hal yang memprihatinkan. Seorang bocah yang seharusnya mengenyam pendidikan, tetapi dia malah bekerja, bahkan yang paling banyak adalah mengemis. “Aku bertanya dalam hati, kemanakah orang tua mereka?”
Para wanita perkasa menjajakan dagangannya, kebanyakan ibu-ibu dari mereka. Berjualan nasi, pecel, tempe mendoan, gorengan, pisang rebus, bahkan rujak. Semua ada disini. Sampai suatu ketika seorang ibu yang rupanya sudah hampir putus asa karena dagangannya kurang laku. Dia menyodorkan beberapa bungkus Lanting, makanan khas jawa tengah. Mari mba, ini saya kasih harga murah tiga Rp 10.000.- aku menggeleng dan tersenyum, “mboten bu…” jawabku. Lalu ibu itu pergi dengan kesedihan diwajahnya.
Rupanya si Ibu itu beberapa kali bolak balik sepanjang gerbong, dia menghampiriku lagi, “Mari mba, saya kasih murah lagi ini mba, 5 bungkus Rp 10.000,- “ Aku masih menggeleng, karena aku memang tidak berniat untuk membeli apapun dikereta ini.” Ayolah mba, udah deh saya kasih 7 deh, enak loh mba gurih dan renyah, masih hangat.” Aku pun melirik bungkusan lanting itu. Kasihan juga ibu ini kupikir, murah sekali. “Ya, saya beli bu…” akhirnya kuputuskan untuk membeli. seulas senyum terpancar dari bibir ibu itu, “nglarisi mba…” selorohnya. Setelah kubayar dan ibu itu berterimakasih. Teman dudukku yang ibu-ibu pun akhirnya ikut membeli lanting itu, barisan kursi disebelahku pun ikut membeli. Mungkin karena murah. Alhamdulilah…ucap si Ibu itu sambil memasukkan uang kedompetnya. Alhamduliah, kata-kata yang ibu itu ucapakan. Kata yang jarang aku ucapakan. Ya Allah…ampuni hamba yang jarang bersyukur, bahkan untuk sekedar mengucap kata Alhamdulilah.
Dikereta ekonomi ini banyak membukakan hatiku yang kadang kurang bersyukur, meski aku bukan orang kaya, tetapi hidupku tidak kekurangan dan tidak sampai meminta-minta dan bermandi peluh. Sebuah pemandangan yang membuatku salut dan bersyukur adalah, seorang ibu yang tengah hamil tua, dia berjualan minuman segar. Tangannya membawa termos yang dipinggirnya bergelantungan aneka jenis minuman. Sungguh ibu itu begitu kuat, padahal perutnya sudah sangat membuncit. Sekali-kali dia mengelus perutnya dan mengusap peluhnya yang mulai membanjiri tubuhnya. Yah, karena kereta ekonomi tidak ber AC, ada kipas angin pun hanya satu atau dua yang masih berfungsi dengan baik.
Satu lagi, sebuah pelajaran berharga untukku.  Semua rizki yang diberikan oleh Allah sudah menjadi kewajiban untuk menjaganya dengan baik-baik termasuk harta atau materi. Di kereta Ekonomi ini, lengah sedikit saja, harta kita bisa melayang. Pencopet banyak berkeliaran, baik tua, muda, bahkan bocah kecil, perempuan atau laki-laki semua bisa jadi pencopet. Yah sebuah pemandangan yang tidak asing lagi di kereta ekonomi.
Kala itu seorang ibu-ibu yang membawa tas kecil dan diletakkan di meja kecil tempat minum yang melekat pada jendela. Tepat sekali ketika kereta sedang perlahan hendak melaju. Tiba-tiba ibu itu berteriak. “Maling….rampok…arrgh… tas saya, tolong tas saya di ambil maling…huhu…huhu…” tangis ibu itu pecah…”ya Allah…harta saya ludes, semua perhiasannya juga ludes.” Ibu semakin terisak. Ternyata tas itu berisi uang dan perhiasan untuk persiapan pernikahan anaknya. Dan tas itu hilang diambil pencopet yang merambat bergelantungan di jendela. Karena gelap dan malam, serta jendela terbuka maka dengan mudah maling itu mengambil tas si ibu itu. Kemudian maling itu langsung melompat dari jendela dan kabur. Ibu itu hanya menangis dan menangis, anggota keluarga yang lain segera melapor ke polsuska (polisi khusus kereta api). Walau semua uang dan perhiasan ludes dicopet, tapi si Ibu itu masih bersyukur, karena jiwanya masih bisa selamat.
Kurang lebih 7 tahun saya tidak lagi menggunakan jasa kereta ekonomi. Karena beberapa pertimbangan. Setelah saya lulus dan menikah, saya pun menetap di kota yang sama ketika kuliah. Mudik lebaran tahun 2012 kemarin, sengaja saya dan suami menggunakan jasa kereta ekonomi. Pemandangan sudah agak berbeda, meski para pencari rizki dan para wanita perkasa itu pun masih ada, walau ada beberapa wajah baru. Subhanallah, ada beberapa pedagang yang tetap istiqomah dengan dagangannya. Dan bapak tuna netra itu juga masih ada! kereta ekonomi sudah banyak sekali kemajuan. Tempat duduk yang sesuai tiket pun berlaku, tidak seperti dulu, siapa cepat dia dapat. Toiletnya pun sudah bersih dan tersedia air, tidak seperti dulu, bau pesing kemana-mana. Keamanan pun mulai terilhat karena di sepanjang gerbong polsuska sering mengontrol kondisi di dalam kereta.
Alhamdulilah, semoga kemajuan ini akan terus dan tidak berhenti sampai disini. Aku bersyukur bisa kembali merasakan menikmati perjalanan di kereta ekonomi. Kali ini berbeda, karena bersama suamiku dan tiga buah hatiku. Aku tetap mengambil hikmah dan pelajaran dalam perjalanan ini, dan perjalanan ini juga mengajarkan kepada mereka, anak-anakku agar selalu bersyukur, dan bersyukur. Bersyukurlah selalu. Karena dengan selalu bersyukur, kita tidak akan pernah mundur, dan minder. Terus melangkah maju, walau ujian terus menderu. 


nunung nurlaela
nunung nurlaela Momblogger of 5. lecturer, writer

Posting Komentar untuk "Berjuta Syukur di kereta Ekonomi"